Polres Kediri Kota turut ambil bagian dalam pengamanan Mujahadah Kubro di Ponpes Perjuangan Wahidiuah Kedunglo Kediri. Pengamanan selama pelaksanaan mujahadah yang didatangi jamaah wahidiyah se-Nusantara akan di back up penuh selama pelaksanaan yakni mulai 28 April – 1 Mei 2016.
Pengamanan internal sebanyak 250 personil yakni 50 wanita dan 200 pria dan dibantu 15 anggota TNI. Untuk kepolisian sendiri jumlah yang akan diterjunkan menyesuaikan dengan tingkat kerawanan.
Bahkan secara khusus Kapolres Kediri Kota AKBP Bambang W Baiin, pada Rabu malam (27/4) melakukan kunjungan di lokasi Mujahadah dengan didampigi oleh Pengasuh Ponpes Perjuangan Wahidiuah Kedunglo Al Munadhdhoroh Kediri, Hadratul Mukarrom Romo KH Abdul Latief Madjid RA.
Pesantren Kedunglo Kediri bulan ini memiliki hajatan besar yaitu resepsi mujahadah kubro acara seremonial yang dilaksanakan oleh seluruh Pengamal Sholawat wahidiyah diseluruh nusantara bahkan secara internasional.
Acara ini diselenggarakan dua kali dalam setahun. Tepatnya pada setiap bulan muharam dan bulan rajab yaitu pada hari jum’at pertama setelah tanggal lima belas Muharam dan Rajab.
Acara ini diselenggarakan di Pusat lahirnya Sholawat wahidiyah yakni pondok Pesantren Kedunglo Al Munadhdharah di Kelurahan Bandar Lor kecamatan Mojoroto Kota Kediri.
Acara Mujahadah Kubro yang digelar pada bulan Muharam dimaksudkan untuk kembali mengenang ulang tahun lahirnya Sholawat wahidiyah sekaligus haul Mbah K.H.Muhamad Ma’roef Q.S. wa R.A. Sedangkan mujahadah yang diselenggarakan pada bulan Rajab adalah untuk memperingati peristiwa isra’ mi’raj rasulullah SAW sekaligus haul Mbah K.H. Abdoel Madjid Ma’roef Q.S. wa R.A.
K.H. Ma’roef Q.S. wa R.A.adalah pendiri pondok pesantren Kedunglo tempat lahirnya Sholawat Wahidiyah dan ajarannya. Beliau adalah seorang ‘ulama’ sepuh pada masa penjajahan. Beliau ikut aktif merebut kemerdekaan Indonesia kala itu.
Beliau juga terkenal sebagai tokoh agama yang sangat disegani di kediri. Pada masa hidupnya beliau aktif di organisasi NU dan sempat menjabat sebagai Majlis Syuro.
Sedangkan K.H Abdoel Madjid Ma’roef Q.S. wa R.A. adalah putra Mbah Ma’roef. Beliau ikut serta dibawa haji disaat masih bayi. Di tanah suci ini pada setiap tengah malam Mbah Ma’roef senantiasa membawa putranya ketalang besi dibawah ka’bah.
Disana Mbah Ma’roef senantiasa berdo’a dan meminta kepada Allah SWT agar putranya kelak dijadikan sebagai seorang yang shalih, berguna dan bermanfaat bagi umat dan masyarakat.
Pasca wafatnya Mbah Ma’roef K.H. Abdoel Madjid Ma’roef Q.S. wa R.A. memperbanyak riyadlah dan mujahadah karena merasa prihatin terhadap nasib dan kondisi umat masyarakat dikala itu yang jauh meninggalkan Allah wa Rasulihi SAW .
Pada saat itulah dalam kondisi hati yang senantiasa tawajuh dihadapan Allah SWT dan hati yang syauq kepada Allah dan Rasulullah SAW lahirlah dari kandungan beliau shalawat yang pertama dari rangkaian shalawat wahidiyah yaitu Sholawat ma’rifat yang isinya adalah memohon kepada Allah SWT agar ditenggelamkan kedalam samudera tauhidnya Allah sehingga tidak bisa melihat, mendengar, menemukan,merasakan, bergerak, dan diam kecuali diliputi dengan kesadaran kepada Allah SWT.










0 comments:
Post a Comment